Pengikut

Senin, 14 Desember 2020

Senin 13 Desember 2020

 


*ASS WW*
Desember 2020,
Bulan terakhir di tahun ini.

17 hari ke depan
Kita akan mengakhiri tahun ini...

Tahun ini akan menjadi sejarah panjang dalam abad ini... 
sejarah yang sama bahkan di belahan dunia mana pun ...
Sejarah yang Bukan hanya untuk kita yang dewasa ...
Bahkan Anak - anak kita  pun akan mencatat sejarah ini...

Anak-anak tiba -tiba saja dalam 10 bulan terakhir ini harus diam dan belajar di rumah... 
Kesempatan bermain tiba - tiba saja menjadi terbatas...

Tahun ini  dimana hanya sekitar 60 hari  kita hidup dengan normal  saar kita memasuki awal tahun  ini...

Setelah itu
Ketika masuk di bulan Maret 2020, kita hidup dengan seluruh protokol kesehatan yang harus kita patuhi .... 

Tiba - tiba saja
Seluruh proses kehidupan berubah ....

Tiba - tiba saja kita semua menpunyai kebiasaan yang sama ...

Tiba - tiba saja 
Kita semua punya kekuatiran yang sama ... 

Bahkan tiba - tiba
Meskipun agama kita berbeda,
Isi doa kita pun menjadi sama...
Kita tertunduk
Memohon 
Agar kita dapat kembali seperti dulu...
Tanpa masker
Tanpa jarak....

Rasanya letih sekali menjalani tahun ini ...
Mata kadang sulit terpejam ketika malam telah jauh dari larut ... 

Ada rindu yang mungkin hanya bisa terungkap dalam kata  dan lisan... 
Selalu ada ingin untuk memeluk orang yang kita kasihi seperti dahulu biasanya  kita ... 
tanpa resah ketika ingin memeluk...

Dalam ruangan 
saat bersama 
kita harus membuat jarak satu dengan yang lain ... 

Ada bosan juga 
Sambil menggerutu 
Kapan semua ini selesai ... 

Tapi kita tahu ... 
dan bahkan yakin ..
Karena kita makhluk beragama 
Yang dengan sadar menyadari penuh 
Bahwa jagat raya ini ada pemiliknya .... 

Sang Chalik 
Tidaklah tidur 
Sang Chalik 
Pasti punya rencana 
Ketika kita semua tertegun ,
Karena tiba - tiba saja 
Dunia ini  menjadi hening dan di selimuti takut  yang sama ...
Kita takut  untuk sesuatu yang tak kasat mata ...

Tak ada yang kebetulan ...
Itu pasti ...
Mungkin kita sekarang menjadi sadar ...
Bahwa kita makluk yang lemah ... dan kita lemah bahkan untuk sesuatu yang tak terlihat ...
segala rencana bisa dengan mudah berubah, ketika ada suatu kuasa yang berkehendak berbeda ...

10 bulan 
Kita bertahan 
"Menerjang Badai Pandemi,
Menyosong Harapan Baru ...... "

Jangan menyerah ... 
terus berjuang ... 
percayalah ...
Tidak ada harapan yang sia - sia ... 

Kita pasti bisa ....

*Selamat menikmati bulan Desember 2020*
*Selamat mempersiapkan tahun ke depan*
*yang  akan segera datang dalam 17 hari lagi*... 
*Tahun esok dimana kita akan selalu  melihat  dan merasakan betapa ALLAH* *tak pernah luput mengasihi umat NYA* ... 

Aamiin YRA
Salam Sehat tetap semangatπŸ™πŸ™πŸ˜πŸ˜



Sabtu, 12 Desember 2020

Air Mata

 


AIR MATA YANG MEMADAMKAN LILIN


Kisah ini tentang seorang ayah yang kehilangan putranya dan tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya. Dia menderita dan tidak bisa percaya putranya telah pergi. Dia menangis siang malam, merindukan puteranya.


Dia tidak bisa tidur. Tetapi suatu malam seorang pria tua datang dalam mimpi dan mengatakan, “Cukup !!! Cukuplah menangismu !!!" Sang ayah mengatakan kepadanya, "Aku tidak bisa berhenti, aku tidak akan pernah melihatnya lagi!" Pria tua itu berkata, "Apakah kamu ingin melihatnya?" Sang ayah berkata "Ya tentu saja" lelaki tua itu membawanya ke gerbang surga di mana ia melihat banyak anak kecil, sangat bahagia dan lugu.


Anak-anak itu membawa lilin bernyala ke gerbang surga, tersenyum, tertawa... sangat indah. Sang ayah bertanya, “Di mana putraku? Siapa anak-anak ini? " Orang tua itu berkata, “ini adalah anak-anak yang dipanggil pulang lebih awal, mereka tidak bersalah dan dicintai dan mereka langsung pergi ke surga, sangat bahagia.” Tanya ayah anak yang meninggal: “Di mana anakku? Dimana dia? Kenapa dia tidak bersama anak-anak ini?"


Orang tua itu berkata "Datang ke sini", sambil menuntunnya ke sisi gerbang surga. Seorang anak lelaki kecil dengan senyum yang indah berdiri di sana menyaksikan semua anak masuk Surga. Dia berdiri di sana dengan lilin yang tidak dinyalakan (lilinnya tidak bernyala).


Ayahnya mencengkeramnya dan memeluknya, dan bocah itu mencium pipi ayahnya dan mengatakan bahwa dia merindukannya. Sang ayah berkata, “Mengapa lilinmu tidak menyala seperti anak-anak lain? Kenapa kamu menunggu saja di gerbang? ”

Bocah itu berkata, “Aku terus menyalakannya, Ayah, tetapi air matamu memadamkannya. Saya melihat Ayah sangat sedih dan saya terikat dengan perasaanmu itu, jadi saya menunggu di sini sampai Ayah baik-baik saja. Ayahnya meledak menangis untuk terakhir kalinya, ia berkata kepada putranya, "Nyalakan lilinmu dan pergi, aku akan baik-baik saja, dan saya tahu kau juga akan baik-baik saja."


Jangan menangis terlalu lama untuk berpulangnya seseorang yang Anda cintai: apakah itu putra, putri, suami,istri, ibu atau ayah !!! Biarkanlah mereka beristirahat dalam damai, jangan menyiksa hidupmu, karena mereka tidak akan kembali, percayalah bahwa kamu akan bersama lagi, dan bahwa Pencipta membuat rumah yang indah untuk semua orang yang kita cintai yang telah meninggalkan dunia.


Kirim ini ke 5 grup dan semampumu dan seikhlasmu kepada sesama Muslim, sampaikanlah walau hanya pada 1 org..


Saya doakan semua yang membaca dan mengaminkan doa ini, di beri rezeki melimpah 7 turunan seperti air mengalir ini.. dan diundang segera oleh Allah menunaikah Haji dan Umroh dengan cara2Nya.

.


Aamiin.... πŸ“·


Semoga bermanfa'at. Aamiin

Sabtu 12.12.2020

 https://drive.google.com/file/d/1jk3mLMQUjd5E9JXDFVAfkJhJAiQd1d1M/view?usp=drivesdk

Waktu terus berputar 


Malam ini saya belum mengantuk. Saya baca nama saya belum ada di deretan nama penulis di wa group rumah virus Corona eh literasi. 


Saya sibuk sekali hari ini untuk membuat kata pengantar kawan kawan yang sudah menyusun bukunya untuk diterbitkan oleh penerbit. 


Kata demi kata saya tuloskan agar sesuai dengan tema atau judul bukunya. Walaupun saya harus jujur. Kata pengantar buku yang saya buat tidak sebagus bapak Doktor Ngainun Naim dan Doktor much Khoiri. Mereka berdua adalah guru menulis saya dan berharap tahun depan sudah adalah gelar profesor di depan namanya. Sebab mereka sudah layak untuk mendapatkan gelar guru besar tersebut. 


Beda dengan saya. Guru besar blogger Indonesia yang saya ciptakan sendiri untuk mendapat personal branding karena badan saya yang besar hahaha. 


Tadi sempat juga melirik desertasi yang belum selesai. Padahal begitu banyak hasil penelitian yang siap dituliskan sebagai laporan penelitian tindakan atau action research.


Entahlah saya masih ingin disebut mahasiswa. Biar istri saya senang bisa tidur dengan mahasiswa hahaha. 


Tapi sekarang saya pisah kamar dulu untuk sementara waktu. Dokter Silvi menyarankan agar kami pisah kamar dulu sampai istri sudah dinyatakan negatif covid-19 oleh puskesmas jatibening Bekasi. 


Alhamdulillah saya dan anak saya sudah negatif covid-19 dan kami akhirnya pisah kamar untuk sementara waktu. 


Berlian di kamar depan. 

Istri di kamar tengah

Saya di kamar belakang dan berteman dengan nyamuk nyamuk nakal.  Hehehe 


Sebenarnya nyamuknya tidak nakal. Tapi kawan kawannya ini loh yang nakal. Mereka menghisap darah saya di saat saya lengah. Kalau nanti sampai ada yang hamil, saya tdk akan bertanggung jawab. Karena anak nyamuk itu bukan darah daging saya hahaha. 


Malam ini seru juga ikut pelatihan menulis bersama mas Aris Ahmad Jaya. 


Kawan kawan yang baik, monggo silahkan Klik siaran ulang di http://www.youtube.com/watch?v=gWrh-Hp5RlY, Materinya Rahasia kedahsyatan menulis bersama motivator nasional Aris Ahmad Jaya. Sayang masih kurang waktu tanya jawabnya. Jadi masih kurang terasa interaksinya. Begitulah bu Aam curhat pada saya malam ini. 


Selama isolasi mandiri,  saya sudah membuat 2 buah buku. Pertama buku agar pjj tak lagi membosankan dan kedua buku awas corona mengintai anda.


Alhamdulillah buku agar pjj tak lagi membosankan sudah dipesan 120 orang guru dan dosen dari seluruh Indonesia. Begitulah laporan bang Dian Kelana yang mengirimkn bukunya ke jne. Beliaulah yang banyak membantu saya dar mulai menyusun buku hingga buku tersebut dikirimkan kepada para pemesan. Sementara itu saya hanya bisa meninggalkan jejak jemari di masa pandemi covid-19 dari rumah. Kami sekeluarga tak bisa keluar rumah selama menjalani isolasi mandiri. 


Alhamdulillah ada pertolongan datang dari pak Mukminin dari Lamongan. Beliau membantu menerbitkan buku awas corona mengintai anda. Alhamdulillah sudah ada 10 guru yang pesan dan semoga terus bertambah pemesan bukunya. 


Bila buku tersebut laku dan banyak yang pesan,  rencana akan saya salurkan untuk kawan kawan yang mengalami kesulitan. Terutama buat mereka yang terpapar covid-19.


Selama saya sakit dan menjalani isolasi mandiri, tak ada pemasukan lain selain gaji pokok sebagai guru. Tentu saja pengeluaran dan pemasukan tidak sebanding. 


Namun saya harus bersyukur karen banyak orang baik yang memberikan pertolongan.  


Dalam kesulitan itu ada orang yang baik hatinya menolong kami sekeluarga. Semoga semakin bertambah rezekinya dan Allah membantu mereka yang sedang dalam kesulitan seperti apa yang kami alami. 


Di dalam kesulitan itu pasti ada kemudahan. Itulah janji Allah dalam Al quran dan saya sudah membuktikan itu. 



Salam Blogger persahabatan 

Omjay

Guru Blogger Indonesia 

Blog http://wijayalabs.com












Jumat, 11 Desember 2020

Simpan disini aja

 


11.13.2020, Jum'at

dngn menulis amal jariah selalu ngalir, namanya selalu dikenang/panjng umur, berbagi ilmu dll
menulis adalah mengikat ide, mengikat rasa, mengikat emosi, mengikat gagasan

Dengan menulis , dapat mengasah rasa dan mengukir sejarah dalam hidup kita

Jumat, 11 Desember 2020

 



Mas Parno

11 December 2020
Oleh : Dahlan Iskan

Saya sarankan jangan semua orang membaca Disway hari ini. Tulisan ini hanya berisi kenangan untuk seorang anak buah yang baru saja meninggal dunia.

--- 

Saya penuhi janji itu. Telat. Mas Parno sudah meninggal dunia. Rabu pagi lalu. Karena kanker pankreas. Di RSCM Jakarta.

 
Putri beliau yang memberi tahu bahwa Mas Parno meninggal dunia. Dia mau menikah minggu depan.

Satu jam kemudian, saya meluncur ke kampung asal Mas Parno: Dusun Krajan, Desa Poncol, Kecamatan Sine, di lereng utara Gunung Lawu, Jatim.

Saya tahu, kampung itu jauh sekali, pun dari kota terdekat: Ngawi. Tapi saya sudah berjanji suatu saat akan ke situ. Itulah kampung kelahiran kebanggaan Mas Parno.

Mas Parno adalah Direktur Utama PT WSM. Itulah holding company untuk sekitar 50 perusahaan koran, radio, televisi, media online, percetakan, pabrik pelet, dan tambak udang.

Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di Palembang, Jambi, Bengkulu, Lampung, Cirebon, Tasikmalaya, Bandung, Tegal, Banyumas dan sekitarnya.

Hidupnya habis untuk keliling ke kota-kota itu. Untuk menemui para pimpinan unit usaha di sana. Tugas saya menjadi ringan karena Mas Parno bisa mengatasi semua masalah di grup itu.

Tapi Mas Parno masih ingat untuk selalu pulang ke kampungnya itu. Setidaknya setahun sekali. Untuk menemui orang tuanya –ketika masih hidup. Atau ke makam orang tua–ketika keduanya sudah meninggal dunia.

Setiap kali pulang ke kampung itu Mas Parno punya acara besar: mempraktikkan ilmu dalangnya. Ia pentas. Mas Parno memang dalang wayang kulit.

Maka rumah orang tuanya itu ia bangun dengan konstruksi beton. Dengan tiang yang tingginya sama dengan rumah empat lantai. Itu karena rumah tersebut di lereng bukit. Sulit mendapat tanah datar ­–pun untuk hanya seluas rumah itu.

Posisi lantai yang paling atas pun baru sejajar dengan jalan berliku di lereng gunung itu. Maka lantai teratas tersebut justru menjadi seperti lapangan kecil. Di samping sebagai atap. Luasnya kira-kira 8 x 12 meter.

Di pelataran itulah Mas Parno selalu menggelar wayang kulitnya.

Baru di bawah ''halaman'' itulah rumah bapak-ibunya. Yang untuk ke rumah itu harus menuruni perengan gunung. Lewat jalan yang berkelok.

Di bawah atap itulah tiang-tiang beton tinggi menyangga rumah itu. Tapi tiang-tiang beton itu tidak menonjol. Kalah dengan pohon-pohon tinggi di kebun sekelilingnya.

Saya tidak menyangka kampung Mas Parno seterpencil itu. Dulu, waktu saya berjanji suatu saat akan ke sana, saya pikir tidak sulit. Toh kampung kelahiran ayah saya juga di lereng utara Gunung Lawu. Sesekali saya masih ke kampung ayah saya itu: Gedangan, Jogorogo. Kapan-kapan sekalian mampir ke Poncol-nya Mas Parno.

Baru kemarin itu saya tahu bahwa Poncol masih satu jam bermobil dari kampung ayah saya. Dulu, saya pikir kampung ayah saya sudah yang paling terpencil. Yang untuk ke sana harus menyeberangi sungai. Dengan cara loncat-loncat batu di sela-sela aliran air. Waktu kecil saya suka BAB di sungai itu. Dengan cara jongkok. Kaki kiri dan kaki kanan bertumpu di batu yang berbeda. Lalu mencucinya dengan air yang mengalir deras di sela batu itu.

Ternyata kampung Mas Parno lebih terpencil lagi. Sudah dekat dengan perbatasan kabupaten Karanganyar, Jateng. "Di balik bukit itu sudah Karanganyar," ujar sepupu Mas Parno sambil menuding salah satu bukit di sebelah barat kuburan.

Saya memang ke kuburan itu. Melihat lubang yang akan dipakai menyemayamkan mayat Mas Parno. Yakni di sebelah persis makam ibunya. Di bawah pohon rindang yang amat besar --yang tidak ada yang tahu sudah berapa ratus tahun umurnya.

"Kalau Pak Manteb ke sini, ya menerabas lewat bukit itu," ujarnya. Manteb Sudarsono adalah dalang kondang pujaan saya juga. Yang rumahnya di Karanganyar ternyata di balik bukit itu.

Bukan hanya Pak Manteb yang sudah ke Poncol-nya Mas Parno. Sudah puluhan dalang datang ke Poncol. Untuk tampil gantian, dan sesekali tampil bareng.

Pokoknya orang Poncol bangga banget pada Mas Parno. Ingin dalang siapa pun Mas Parno sanggup mendatangkan. Setiap saat selalu ada wayangan di situ.

Nama aslinya hanya satu kata: Suparno. Ia sempat menjadi wartawan Masa Kini di Jogja, sebelum bergabung dengan saya, menjadi wartawan di Jakarta. Ketika harus ke luar negeri, saya minta agar namanya ditambah satu kata lagi. Ia pilih menjadi Suparno Wonokromo.

Rasanya ada beberapa wartawan bernama satu kata yang saya minta dijadikan dua kata. Agar kalau ke luar negeri tidak ada masalah. Wartawan Don Kardono itu, aslinya bernama hanya Kardono.

Saya punya dua anak buah yang sama-sama wartawan hebat. Juga sama-sama dalang. Satunya lagi juga bernama satu kata: Margiono. Kini Dirut Rakyat Merdeka Group.

Mas Parno lebih sering mendalang daripada Margiono. Terutama karena Margiono lantas menjadi ketua umum PWI Pusat dua periode.

Kadang-kadang saya goda Mas Parno: jangan-jangan kesibukan ndalangnya lebih diutamakan daripada mengurus perusahaan.

Tapi kok perusahaan di bawahnya maju semua. Beres semua. Ya sudah.

Sering juga saya tegur Mas Parno. "Kok di Sumatera masih mendalang terus. Apakah nanti tidak ada anggapan men-Jawa-kan Sumatera?“ tegur saya.

"Di sini banyak sekali orang Jawa. Mereka juga kangen wayang," jawabnya.

Mendengar jawaban itu saya pun tidak pernah menegur lagi. Yang penting urusan perusahaan beres. Hanya kadang saya kasihan pada para manajernya: harus ikut semalam suntuk menonton ia mendalang tanpa tahu jalan ceritanya.

"Lama-lama kami mengerti kok," jawab salah satu direktur di Jambi. Saya tahu itu adalah jawaban seorang manajer yang bijaksana.

Setelah lama saya tidak menegur lagi, giliran saya kena batunya. Mas Parno mengadakan rapat pimpinan di Jambi. Saya diminta harus hadir. Dan harus menginap. Tumben. Saya pun hadir.

Ternyata malam harinya ada pertunjukan wayang kulit di kota Jambi. Saya diminta harus ''mucuk-i''. Yakni memainkan wayang di awal pertunjukan sebagai tanda pagelaran dimulai.

Saya pun mengingat-ingat bagaimana saat saya mendalang amatiran sambil menggembala kambing di sawah. Yang wayangnya terbuat dari rumput –yang dibuat wayang-wayangan. Kami tidak mampu membeli wayang –pun hanya terbuat dari kertas.

Memainkan wayang dari rumput memerlukan imajinasi lebih tinggi. Misalnya: untuk membedakan tokoh Gatotkaca dengan Werkudara hanya dilihat dari besar kecilnya wayang-rumput. Dan suara percakapannya nanti. Bahkan untuk sosok raksasa tidak bisa lagi dibuat dari rumput. Kami menggunakan saja daun kluwih. Daunnya lebar dan panjang. Tangkai daunnya kuat, bisa dipegang untuk memainkannya.

Rupanya Mas Parno tahu, di balik teguran-teguran saya itu saya sendiri penggemar wayang kulit. Dulu saya punya ratusan kaset wayang kulit dengan dalang Ki Narto Sabdo.

Pernah, saya, tiap malam harus setir mobil sendirian Surabaya-Magetan. Berhari-hari. Ketika ayah saya sakit. Narto Sabdo-lah yang menemani saya sepanjang perjalanan. Pulang-pergi.

Mas Parno kemarin dimakamkan di desa kebanggaannya itu. Umurnya 62 tahun.

Saya sebut ''kebanggaan'' karena Mas Parno sering sekali bercerita tentang kampungnya itu.

Wayanglah yang membuat Mas Parno tidak stres mengurus begitu banyak perusahaan. Wayanglah yang juga membuat gaya hidup Mas  Parno tetap seperti Punokawan –jauh dari penampilan seorang bos besar.

Jangankan jas. Sepatu pun ia amat jarang memakai. Selalu saja ia bersandal. Dengan baju lusuh yang tidak pernah dimasukkan celana. Bahkan saya sudah lupa tahun berapa melihatnya bersepatu. Mungkin waktu sama-sama keliling Eropa dulu. Lebih 15 tahun yang lalu.

Mas Parno juga jarang mau pidato. Semua masalah ia selesaikan dengan kerja. Dengan contoh. Dengan hubungan pribadi yang seperti keluarga dengan para direkturnya.

Mungkin itu karena Mas Parno sudah sering menjadi raja. Di berbagai negara: Amarta, Astina, Wirata...

Dan semua raja itu kok hidupnya hanya di sekitar konflik. Kalau tidak membunuh ya dibunuh. Di mana asyiknya.

Mas Parno memilih hidup seperti di padepokan Karangkedempel saja. Tempat para Punokawan hidup dengan sederhana dan apa adanya. (Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/1155













Kamis, 10 Desember 2020

Rabu, 09 Desember 2020

Rabu, Desember 2020

 




Rabu sembilan Desember tahun duaribu duapuluh , setiap warga negara Indonesia datang berbondong-bondong menuju TPS, hari ini warga tempel rejo RT 9 RW 3 TPS nya di SDN 104 Rejang Lebong atau di tempel rejo.

Memandang Jembatan Ampera

  Ampera dari Atas Perahu Karya. Asnati Di atas perahu, aku terombang-ambing  Menyusuri Sungai Musi yang tenang dan hening  Di kejauhan, Amp...