Pengikut

Sabtu, 02 Januari 2021

Jumat, 01 Januari 2021

Awal 2021

 



BERCERMIN PADA SEJARAH: MEMBINGKAI WAKTU EKSISTENSIAL


"Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin,
maka dialah orang yang beruntung;
dan barangsiapa yang keadaan hari ini sama dengan hari kemarin,
maka dialah orang yang merugi" (Hadits).


Tanpa suara kereta waktu terus bergulir membawa kita dari milenium ke milenium, dari abad ke abad, dari tahun lalu memasuki tahun ini, dari bulan Dzulhijjah ke bulan Muharram, dari minggu kemarin ke minggu ini, dan dari hari kemarin sampai ke hari ini. Dentang kedatangan tahun baru bergema. Kita menjadi sadar bahwa jatah kontrak hidup kita di dunia semakin berkurang. Tentu saja menurut hitungan statistik-matematis, usia kita memang semakin bertambah. Namun dalam tilikan  spiritual-psikologis, umur kita di pentas yang fana ini justru kian berkurang. 
Hadis Nabi kita di atas mengingatkan kita betapa pentingnya kesadaran tentang dimensi waktu.

 Pertanyaannya, kapankah seseorang mampu menatap betapa berharganya nilai kehadiran sang waktu secara tepat, akurat, dan jernih? Dalam kubangan rutinitas, lazimnya kebanyakan kita lengah terhadap putaran sang waktu. Dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari, hingga putaran tahun ke tahun, waktu berlalu begitu cepat tanpa kita sadari. Semuanya bergulir secara otomatis apa adanya menuju tahun berikutnya. Namun ketika momen-momen besar, seperti tahun baru hadir menyapa kita, seakan-akan kita terhenyak sadar betapa berharganya waktu dan betapa miskinnya makna yang telah kita rajut selama setahun silam.

Untuk melihat objektivitas waktu, izinkan saya meminjam analisis filosofis dua filsuf Prancis dan Jerman terkenal yaitu Henry Bergson dan Martin Heidegger. Menurut Bergson, ada dua macam waktu. Pertama, waktu kuantitatif yang berhubungan dengan ruang, waktu yang dapat diukur dan dibagi-bagi. Dalam konsep ini, waktu diklasifikasi ke dalam satuan-satuan yang homogen, seperti milenium, abad, dasawarsa, tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik. Inilah waktu yang berada pada tataran dimensi objektif-fisis. Dalam istilah Prancisnya, Bergson menyebutnya sebagai temps, waktu yang digunakan secara umum dalam rutinitas kehidupan kita sehari-hari. Nah, pengalaman kita saat bersentuhan dengan waktu kuantitatif ini dinamakan pengalaman fenomenal, yakni pengalaman kita yang banal dalam kebiasaan hidup sehari-hari. Pengalaman jenis ini nyaris dilakoni oleh kebanyakan manusia umumnya. 

Kedua, waktu kualitatif yang tidak berhubungan dengan ruang (tempat), bersifat kontinuitas dan mengalir terus-menerus tak terbagi. Waktu jenis ini terkait dengan perasaan dan kesadaran, aspek psikologis manusia. Inilah waktu yang berada pada wilayah subjektif-psikologis. Bergson menamakan waktu ini dengan duree, yang berarti lamanya, yang digunakan untuk manusia secara pribadi-pribadi. Pengalaman kita tatkala bersentuhan dengan waktu kualitataif tersebut dinamakan pengalaman eksistensial, yakni pengalaman yang dirasakan oleh aspek mental, emosional, bahkan ranah sukma spiritual kita yang terdalam. 

Mendekati penjelasan Bergson, menurut Heidegger ada dua macam waktu: waktu objektif dan waktu subjektif. Waktu objektif merupakan waktu yang digunakan oleh kronometer, alat pengukur waktu, seperti arloji, kalender dan berbagai petunjuk waktu secara umum.

 Sedangkan waktu subjektif adalah waktu yang dialami oleh orang perorang secara  individual. Jika waktu objektif berada di luar sana yang dirasakan sama oleh manusia secara umum, maka waktu secara subjektif berada di dalam sini, yang dirasakan secara unik oleh setiap pribadi dan berbeda antara seorang dengan orang yang lain. 

Waktu sehari semalam dalam pandangan mayoritas orang secara objektif berisi dua puluh empat jam, namun durasi waktu itu terasa bagaikan dua puluh empat menit bagi sepasang kekasih yang sedang berkencan di bawah payung asmara. Bagi orang-orang yang berada di tengah-tengah pesta waktu dua belas jam terasa begitu cepatnya. Tapi bagi orang yang sedang sekarat diserang penyakit kronis waktu itu sungguh-sungguh terasa sangat lama. 

Fakta yang mungkin sering kita alami adalah waktu lima jam sangat berbeda antara Anda yang menunggu dengan saya yang sedang ditunggu. Waktu lima jam itu terasa sangat lama bagi Anda namun terasa biasa saja bagi saya.

 Padahal ukuran waktu sehari semalam, dua belas jam, atau pun lima jam itu, secara matematis tidak ada bedanya, waktu itu bergulir secara objektif di mana pun. Albert Einstein melukiskan pengalaman eksistensial ini secara kontradiktif: “Jika dua jam bersama gadis yang baik, orang merasa dua menit; namun jika dua menit duduk di atas open panas, orang merasa dua jam.”  

Dalam konteks inilah, ketika meninggalkan tahun 2020 dan menyambut awal tahun 2021, momen besar tahun baru yang kita rasakan tidak boleh hanya berhenti pada kesadaran jernih semata dalam melihat berjalannya roda waktu secara perlahan-lahan, melainkan harus bermuara pada pertanyaan introspektif-kontemplatif: Apakah aku telah mengukir waktu-waktuku sebelum ini dengan aneka kebajikan dan pengabdian atau justru dengan keburukan dan kedurhakaan? Apakah bentangan usia yang telah kulalui selama ini sudah aku renda dengan puspa ragam kearifan dan ketaatan atau malah aku rajut dengan berbagai kelalaian dan kemaksiatan?

  Dalam meninggalkan tahun 2020 dan menyongsong tahun baru kali ini, kita mesti menghadirkan kegelisahan eksistensial semacam itu. Mengapa demikian? Karena umur manusia merupakan modal yang setiap saat selalu berkurang dan akan sia-sia bahkan membawa celaka apabila tidak diinvestasikan dalam pengabdian kepada Dzat Yang Maha Memiliki waktu. Waktu setahun atau sebulan, kegiatan sehari atau hanya beberapa jam, bahkan satu detik nafas yang baru saja kita hembuskan tidak akan pernah kembali lagi kepada kita. Kita tidak bisa menarik kembali momen itu untuk hadir sekarang. 

Itu artinya setiap waktu, umur (modal) kita senantiasa berkurang. Sudah berapa banyakkah modal (baca umur) yang kita keluarkan dalam arena kehidupan selama ini? Sepuluh tahun, dua puluh, tiga puluh, atau sudah lima puluh tahun lebih kita mengarungi lautan waktu kita? Persoalannya, apakah modal-modal yang kita keluarkan selama ini akan membawa keberuntungan (pahala) atau justru membuahkan kerugian (siksa)? Bukankah sebanyak apapun modal yang kita tanam, sejauh itu pula buah kebahagiaan atau kesengsaraan yang pasti akan kita tuai suatu saat kelak? 

Dengan terang perspektif inilah, mengikuti kriteria teladan ideal kita Rasulullah Saw, dalam menyambut tahun baru kali ini mengajak kita untuk menghargai kehadiran sang waktu. Kalau hari-hari kita sekarang sama dengan hari kemarin, maka kita menjadi orang yang merugi (maqfun); Namun kalau hari-hari kita sekarang lebih baik ketimbang hari kemarin, maka kita menjelma orang-orang yang beruntung (roobih). Dengan kata lain, Nabi kita berpesan: Today must be better than yesterday and tomorrow must be better than today. 

Ahirnya sebelum menjejakkan kaki dalam ruang dan waktu tahun 2021, mari kita berhenti sejenak, menengok kembali hari kemarin dan menumbuhkan kesadaran historis untuk menyaring, memungut, dan memetik bunga-bunga kearifan dari taman sejarah agar dapat kita jadikan cermin dan pelajaran bagi tantangan-tantangan yang menghadang di depan. Sebab “those who fail to learn the lessons of history are doomed to repeat them”, “mereka yang gagal memetik pelajaran dari sejarah niscaya akan mengulangi pengalaman sejarah itu”, demikian peringatan filosof Spanyol, George Santayana. Dalam pembacaan retrospektif-futuristik ini, masa silam (baca tahun 2020) justru menjelma kekuatan emansipatoris untuk mencairkan kevakuman masa kini sekaligus memercikkan lentera kearifan dan pencerahan terhadap ketidakpastian masa depan, semoga. Wallahu a'lam bish showab

(Zaprulkhan, Dosen IAIN SAS BABEL)


Dirumah saja

 






السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

_Mari kita awali kegiatan kita hari Jumat awal ditahun 2021 yg sejuk dan indah ini dengan berdo'a kepada Allah SWT, agar kita tetap dalam lindunganNya, sehat wal afiat dan selalu di berikan kemudahan dalam segala urusan, kelancaran, kesuksessan, kesejahteraan, kebahagiaan, kemuliaan dan keberkahan hidup fiddun ya wal akhirat, keluarga sakinah mawaddah Wa rohmah, anak cucu dan segenap keturunan yg sholeh dan sholihah yg taat kepada Allah dan RasulNya, berbakti pada orang tua bermanfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa._

Bismillahirrahmannirrohiim, Alhamdulillahi Robbil'alamiin

Allahumma Sholli wassalliim 'alaa sayyidinaa Muhammaddin wa'alaa alihi sayyidinaa Muhammad

_ALLAHUMMA INNAA NAS-ALUKA 'ILMAN NAAFI'AN, WA-AMALAN MUTAQOBBALAN, WA RIZQAN HALALAN, THAYYIBAN, WASI'AN MUBARAKAN_


*_Yaa Allah .._*
_Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, amal yang di terima, rizqi yang halal, yang baik, yang luas dan yang berkah_

*_Yaa Allah .._*
_Kami bersyukur kepadaMu karena telah menjaga tidur kami dan membangunkan kami kembali dalam keadaan sehat wal afiat, di pagi ini._

_Engkau telah ijinkan kami kembali memulai hari  yang penuh berkah dan indah ini._

_Kami mohon pagi ini untuk berbagi dengan orang-orang di sekeliling kami._

_Jadikanlah mereka nyaman berada didekat kami dan merasa rindu ketika jauh dari kami_

_Jadikanlah hari ini penuh keindahan dan kebahagiaan, keindahan dan kebahagiaan, dengan rahmatMu yang berlimpah._
_Berikanlah hati kami kedamaian, ketenangan, ketentraman dan keikhlasan._

_Berikanlah kami kejernihan pikiran dan keluasan wawasan, sehingga dapat dengan bijak dan sabar menyikapi segala ujianMu._

*_Yaa Rabbana ..._*
_Jadikanlah apa yang kami lakukan hari ini sebagai amalan sholeh yang Engkau berkahi dan Engkau ridhohi, untuk bekal kami menghadapMu kelak._

*_Yaa Rabbana ..._*
_Tegarkanlah hati dan badan ini untuk tetap berjalan dalam naungan CahayaMu._

_Hilangkan kelelahan, kejenuhan dalam diri kami sehingga kami bisa memberi yang terbaik dan terindah bagi keluarga, sahabat dan saudara kami semua._

*_Yaa Allah ..._*
_Berikanlah kasihMu, Rahmat Mu, PerlindunganMu, CahayaMu untuk saudara-saudara kami tersayang yang membaca untaian do'a ini._

_Berkahilah umurnya ..._
_Berilah kesehatan padanya._
_Angkatlah penyakitnya._
_Murahkanlah rizqi padanya dan segera wujudkan apa yang menjadi cita-cita harapannya_ 

*ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة و قنا عذاب النار*

*_"Selamat Beraktifitas"_*
_Semoga apa yang kita kerjakan hari Ini, kemarin maupun yang akan datang selalu mendapat Ridha dan Barakah dari Allah Subhanahu Wata'ala_

*آمين.. آمين.. آمين يَآرَبْ العالمين*






Curup, Jum'at 1 Januari 2021

 












السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

_Mari kita awali kegiatan kita hari Jumat awal ditahun 2021 yg sejuk dan indah ini dengan berdo'a kepada Allah SWT, agar kita tetap dalam lindunganNya, sehat wal afiat dan selalu di berikan kemudahan dalam segala urusan, kelancaran, kesuksessan, kesejahteraan, kebahagiaan, kemuliaan dan keberkahan hidup fiddun ya wal akhirat, keluarga sakinah mawaddah Wa rohmah, anak cucu dan segenap keturunan yg sholeh dan sholihah yg taat kepada Allah dan RasulNya, berbakti pada orang tua bermanfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa._

Bismillahirrahmannirrohiim, Alhamdulillahi Robbil'alamiin

Allahumma Sholli wassalliim 'alaa sayyidinaa Muhammaddin wa'alaa alihi sayyidinaa Muhammad

_ALLAHUMMA INNAA NAS-ALUKA 'ILMAN NAAFI'AN, WA-AMALAN MUTAQOBBALAN, WA RIZQAN HALALAN, THAYYIBAN, WASI'AN MUBARAKAN_


*_Yaa Allah .._*
_Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, amal yang di terima, rizqi yang halal, yang baik, yang luas dan yang berkah_

*_Yaa Allah .._*
_Kami bersyukur kepadaMu karena telah menjaga tidur kami dan membangunkan kami kembali dalam keadaan sehat wal afiat, di pagi ini._

_Engkau telah ijinkan kami kembali memulai hari  yang penuh berkah dan indah ini._

_Kami mohon pagi ini untuk berbagi dengan orang-orang di sekeliling kami._

_Jadikanlah mereka nyaman berada didekat kami dan merasa rindu ketika jauh dari kami_

_Jadikanlah hari ini penuh keindahan dan kebahagiaan, keindahan dan kebahagiaan, dengan rahmatMu yang berlimpah._
_Berikanlah hati kami kedamaian, ketenangan, ketentraman dan keikhlasan._

_Berikanlah kami kejernihan pikiran dan keluasan wawasan, sehingga dapat dengan bijak dan sabar menyikapi segala ujianMu._

*_Yaa Rabbana ..._*
_Jadikanlah apa yang kami lakukan hari ini sebagai amalan sholeh yang Engkau berkahi dan Engkau ridhohi, untuk bekal kami menghadapMu kelak._

*_Yaa Rabbana ..._*
_Tegarkanlah hati dan badan ini untuk tetap berjalan dalam naungan CahayaMu._

_Hilangkan kelelahan, kejenuhan dalam diri kami sehingga kami bisa memberi yang terbaik dan terindah bagi keluarga, sahabat dan saudara kami semua._

*_Yaa Allah ..._*
_Berikanlah kasihMu, Rahmat Mu, PerlindunganMu, CahayaMu untuk saudara-saudara kami tersayang yang membaca untaian do'a ini._

_Berkahilah umurnya ..._
_Berilah kesehatan padanya._
_Angkatlah penyakitnya._
_Murahkanlah rizqi padanya dan segera wujudkan apa yang menjadi cita-cita harapannya_ 

*ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة و قنا عذاب النار*

*_"Selamat Beraktifitas"_*
_Semoga apa yang kita kerjakan hari Ini, kemarin maupun yang akan datang selalu mendapat Ridha dan Barakah dari Allah Subhanahu Wata'ala_

*آمين.. آمين.. آمين يَآرَبْ العالمين*







Kamis, 31 Desember 2020

Malam31.12.2020

 


PENDETA BERTERIMA KASIH PADA UMMAT ISLAM MENGHADAPI THN BARU MASEHI

Pak Kyai:
Maaf Pak Pendeta, sebentar lagi 1 Januari Tahun Baru Masehi akan segera tiba, apa yang dilakukan oleh umat Kristen pada malam tahun baru 1 Januari tersebut? 

Pendeta:
Kami di malam tahun baru tersebut tidak ada kegiatan yang istimewa, ya seperti biasa malamnya jam 19.00 sampai jam 20.00 mengadakan kebaktian di Gereja masing-masing lalu pulang, Dan paginya jam 07.00 sampai jam 09.00 ke Gereja kembali. Itu saja kegiatan kami.

Pak Kyai:
Oh jadi itu saja ya gak ada aktifitas yang istimewa. 

Pendeta:
Iya itu saja.

Pak Kyai:
Apakah dari umat Kristiani tidak ada yang turun ke jalan untuk memeriahkan tahun baru anda? 

Pendeta:
Tidak ada.

Pak Kyai:
Kenapa mereka tidak turun ke jalan memeriahkan tahun barunya? 

Pendeta:
Lah buat apa kami turun kejalan, tanpa kami turun ke jalan juga umat Islam sudah memeriahkan tahun baru kami ko.

Pak Kyai:
Maksudnya bagaimana?
 
Pendeta:
Iya kami tidak perlu turun ke jalan karena kami sangat menghaturkan terimakasih kepada umat Islam yang telah memeriahkan dan meramaikan Tahun Baru kami.

Coba Pak Kyai lihat saat tahun baru kami tiba, yang dagang petasan umat Islam, yang beli petasan umat Islam, yang bakar petasan umat Islam untuk merayakan Tahun Baru kami.

Yang dagang terompet umat Islam, yang beli terompet umat Islam dan yang meniup terompet umat Islam demi memeriahkan tahun baru kami.

Yang dagang kembang api umat Islam, yang beli kembang api umat Islam dan yang membakar kembang api umat Islam untuk memeriahkan tahun baru kami. 

Umat Islam berbondong-bondong ke ancol, ke TMII, ke puncak dan tempat tempat hiburan, jalan-jalan tumpah ruah penuh dan macet dalam rangka memeriahkan tahun baru kami. 

Jadi buat apa kami turun ke jalan memeriahkan tahun baru kami, tanpa kami turun kejalan umat Islam sudah turun ke jalan memeriahkan tahun baru kami. Terimakasih Pak Kyai sampaikan kepada umat Islam yang telah turut serta memeriahkan tahun baru kami.

*GERAKAN SEPIKAN MALAM TAHUN BARU*

Kalau semua umat islam di seluruh dunia,  atau di seluruh Indonesia , menahan diri utk tidak keluar pada malam 31 Desember 2020 ( malam tahun baru 2021 ),  Tidak menonton TV, Tidak bakar petasan atau kembang api, Tidak meniup terompet,  tetapi lebih banyak berdzikir, tilawah dll... Insya Allah kita bisa buktikan kpd dunia bahwa malam tahun baru itu *'TAK ADA APA-APANYA'.*
Mari kita bikin *MALAM TAHUN BARU SEPI*.  !!!!!!!!!!!!!!
kalaupun ada kegiatan,  maka yang terdengar adalah suara zikir zikir, kalimat toyyibah,  tausiyah tausiyah,  alunan bacaan quran,  ruku,  sujud,  doa,...... baik yang dilakukan di masjid masjid,  musholla musholla,  ataupun di rumah rumah umat Islam.


Kondangan

 



















Tahajud

 



Mari BPK. Ibu bangun sejenak, berdoa untuk Orang tua, anak dan Cucu kita. Memohon Kpd. Allah SWT, agar keluarga kita selalu dpt limpahan dimudahkan segala urusan,  kesehatan, murah rezki dan barokah.

asnatisarip@gmail.com
Kamis 31.12.2020









Memandang Jembatan Ampera

  Ampera dari Atas Perahu Karya. Asnati Di atas perahu, aku terombang-ambing  Menyusuri Sungai Musi yang tenang dan hening  Di kejauhan, Amp...